GITARIA

 #GITARIA

Penulis :Sari Andriani Bangun

Dulu  pernah, ketiaka ku duduk di bangku sekolah dasar ku tidak suka memakai rok ke sekolah… bahkan ku menangis agar ibuku tidak memaksa diriku memakai rok ke sekolah.Bermain gitar adalah hobiku….sangkin senangnya ku bermain gitar sampai-sampai ku jarang membuka buku . pasalnya ketika ku belajar, darah selalu keluar dari hidungku... berbanding terbalik dengan abang dan kakakku yang kerjanya setiap hari belajar….

.

.


Ketika ujian tiba ,nilai 50 itu sudahlah harga mati bagiku… ku ranking 30 dari 30 siswa.tidak jarang ku dimarahi oleh ibuku karena ku tidak bisa menjadi seperti yang ia inginkan.

Kakak dan abangku dari kecil mereka selalu mendapatkan juara….bahkan juara umum..bagi mereka “Hidup tiada arti tanpa perestasi”

.

.

Ku selalu dibanding –bandingkan oleh ibuku dengan mereka berdua….. ku berkomitmen agar ku bisa menjadi seperti yang ibuku inginkan…semakin keras kuberusaha semakin deras pula darah yang keluar dari hidungku… 

hingga suatu saat tiba ujian… .kuberusaha untuk menjawab semua pertanyaan pertanyaan yang diberikan oleh guruku…..


.

.

Sebelum kertas ujianku diberikan …ku berdoa agar ku mendapatkan nilai yang bagus…

Beberapa hari kemudian

coba tebak nilai berapa yang ku mendapatkan ….?

Air mataku tak dapat ku bendung seolah dia terjatuh….ku mendapatka nilai 68..pasti ibu akan marah kepada ku ( gerutuku dalam hati)

sesampai di rumah ibuku menunggu kedatanganku…berharap ku mendapatkan nilai bagus…. Alhasil ku membuatnya kembali kecewa….amarah ibuku tak dapat ia kendalikan lagi sehingga kakiku sampai biru ia pukul….pasalnya ku selalu membuatnya malu.

.

.

Akhirnya ku pingsan dan langsung dibawa oleh papaku ke rumah sakit… ketika guruku tahu bahwa diriku masuk rumah sakit ia pun langsung melihat keadaanku.lalu guruku menceritakan kepada keluargaku … bahwa ku mendapatkan juara 1 bermain musik tingkat provinsi,karena ku perwakilan dari sekolahku,psalnya mereka menganggap  bahwa ku pintar bermin gitar.…

.

.


Ketika ku sadarkan diri ku melihat ibuku menangis dengan penuh rasa bersalah…kemudian ia memelukku dengan erat dan meminta maaf kepadaku.

Sejak saat itulah ibuku tidak lagi membanding bandingkan ku dengan kakak dan abangku.

The end….

-Sari-

SALAM  LITERASI


Komentar

Postingan Populer